Gejala disleksia bisa tiba-tiba terasa dan cukup mengkhawatirkan jika Anda belum paham. Kondisi ini bisa memengaruhi produktivitas dan rasa percaya diri. Jika Anda merasa punya tanda-tanda disleksia, ingat bahwa Anda tidak sendirian dan gangguan belajar seperti ini bisa diatasi dan tidak akan menghalangi Anda menjalani hidup yang normal dan bermakna.
Sekilas tentang disleksia
Sebelum mencoba mendiagnosis diri sendiri, Anda perlu tahu dulu apa yang sedang dihadapi. Karena ini gangguan yang sulit dikenali dan gejalanya sangat beragam, menjelaskannya secara singkat pun cukup menantang.
Secara sederhana, disleksia adalah gangguan belajar yang biasanya membuat seseorang kesulitan membaca, sulit memahami bahasa lisan maupun tulisan, serta mengalami masalah dalam menggunakan bahasa.
Sebagian gejalanya bisa mirip dengan gangguan lain seperti autisme atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), tetapi International Dyslexia Association menegaskan bahwa kemunculannya bersamaan tidak selalu saling berkaitan langsung.
Sebelum lanjut membahas gejala lain, penting diingat bahwa masalah membaca bukan berarti kecerdasan atau kemampuan motorik Anda kurang. Jika Anda kesulitan belajar bahasa asing karena tidak fokus pada alfabet baru, itu tidak otomatis menandakan ada masalah mental apa pun.
Tanda-tanda umum disleksia
Karena disleksia menyangkut berbagai kesulitan dalam membaca dan belajar, gejalanya pun bermacam-macam. Ada yang mudah terlihat, ada yang jarang muncul, dan tidak semuanya pasti berarti disleksia. Namun, berikut beberapa tanda yang cukup sering muncul dan patut Anda perhatikan:
- Membalik urutan bunyi — Jika Anda sering menukar suku kata atau makin sering salah ucap, ini bisa menjadi salah satu tanda disleksia.
- Ejaan buruk — Jika ejaan Anda belakangan ini sering salah, ini juga bisa mengarah pada disleksia. Kesulitan membaca dan memahami kata, terutama kata-kata umum, juga bisa menjadi gejala.
- Sulit belajar bahasa baru — Belajar bahasa asing memang menantang. Namun jika Anda merasa makin sulit mengingat kosakata baru, atau sering kesulitan menemukan kata yang tepat, bisa jadi Anda memiliki disleksia.
- Sulit pada tugas non-bahasa yang butuh simbol & decoding — Misalnya, Anda sering kesulitan mengerjakan soal matematika, bisa saja ini terkait disleksia. Namun, bisa juga karena diskalkulia (gangguan belajar di bidang matematika).
4 tipe utama disleksia
Jika dilihat dari kumpulan gejalanya, disleksia bisa dibagi menjadi empat tipe utama:
- Fonologis — Jenis yang paling sering ditemui. Ditandai dengan kesulitan memecah kata dan menghubungkan simbol dengan bunyinya.
- Permukaan — Tipe yang lebih ringan. Ditandai dengan kesulitan mengenali kata secara langsung, terutama kata-kata yang sebenarnya sudah akrab.
- Disleksia rapid-naming — Kesulitan menyebut warna, bentuk, atau hal lain dengan cepat.
- Disleksia visual — Jika Anda sulit mengingat sesuatu yang ada di halaman, misalnya sebuah gambar, kemungkinan Anda mengalami disleksia visual.
Kesulitan belajar akibat disleksia
Sebagian besar gejala yang disebutkan tadi memang bisa mengganggu proses belajar. Selain diskalkulia, disleksia juga dapat memicu masalah lain. Misalnya: sulit mengenali kata bisa menurunkan rasa percaya diri dan memengaruhi kemampuan menulis. Selain itu, siswa yang mengandalkan pendengaran juga bisa makin kesulitan mengikuti pelajaran jika terhambat secara fonologis. Dalam kasus yang lebih jarang, Anda juga bisa menjadi lebih sulit membedakan kata, gambar, bahkan arah.
Tenaga kesehatan pendukung disleksia
Siapa pun sebenarnya bisa membantu penderita disleksia, karena dukungan bersama sangat berarti. Namun, tenaga kesehatan punya peran besar dan perlu lebih proaktif memberi pendampingan. Bukan hanya menyediakan tes diagnosis, tapi juga penting untuk membuka layanan tes disleksia gratis, kelompok diskusi, serta seminar untuk meningkatkan pemahaman tentang disleksia.
Teknik membantu kesulitan membaca akibat disleksia
Karena gejalanya beragam, cara menghadapinya pun berbeda-beda. Namun, seperti halnya ada gejala yang hampir selalu muncul, ada juga beberapa teknik bantu yang bisa diterapkan untuk semua usia, mulai dari anak, pelajar SMA, hingga orang dewasa.
Tenang dulu
Bukan berarti menyepelekan masalahnya. Maksudnya, fokuslah pada satu hal dalam satu waktu dan jangan terburu-buru. Hindari membandingkan diri dengan orang lain, karena itu bisa menguras semangat dan menjatuhkan rasa percaya diri. Pelajari materi pelan-pelan sesuai ritme Anda sendiri.
Coba cara membaca lain
Kalau satu cara tidak cocok, jangan dipaksakan. Coba temukan metode baru dan tinggalkan cara lama jika tidak membantu. Tidak ada aturan baku soal bagaimana Anda harus membaca, jadi jangan ragu bereksperimen, apa pun tingkat kemampuan Anda.
Teknologi text to speech
Ngomong-ngomong soal berbagai cara, text-to-speech layak dicoba. Misalnya aplikasi Amazon Polly, NaturalReader, dan Speechify, yaitu aplikasi yang bisa membacakan teks Anda.
Speechify, misalnya, dibuat khusus untuk penderita disleksia, karena penciptanya sendiri sudah mengalami kesulitan membaca sejak kecil. Dengan memahami kebutuhan pengguna dari berbagai usia dan latar belakang, tim Speechify memastikan aplikasinya selalu fleksibel dan bisa menyesuaikan kebutuhan tiap orang.
Dengan Speechify, hampir semua bisa diubah jadi audiobook. Anda bisa mengimpor e-book lalu mengubahnya menjadi audiobook, atau mengimpor buku dari Audible untuk didengarkan dan diatur sesuka hati. Berkat fitur OCR, Speechify juga bisa membaca gambar dan mengubah buku fisik menjadi audiobook. Kabar baiknya, aplikasi ini mendukung puluhan bahasa dan banyak pengaturan untuk nada, suara, kecepatan baca, aksen, dan lain-lain!
Ingin coba sendiri dan pelan-pelan mengembalikan kenyamanan membaca Anda? Coba Speechify sekarang.

