Cedera otak bisa menyebabkan berbagai gangguan. Beberapa terlihat jelas, seperti kehilangan fungsi gerak. Cedera otak lain menandakan kondisi serius, seperti tumor otak.
Namun, cedera otak juga bisa memengaruhi kemampuan bahasa seseorang. Kadang, cedera kepala tampak ringan tetapi bisa mengubah cara seseorang mendengar dan berbicara.
Saat ini terjadi, pakar wicara menyebutnya afasia atau disfasia. Artikel ini membahas kondisi tersebut dan bagaimana keluarga dapat membantu merawat penderita.
Apa itu afasia/disfasia?
Pertama, penting untuk diketahui bahwa afasia dan disfasia adalah dua nama untuk kondisi yang sama.
Kondisi ini berarti seseorang mengalami kesulitan berbahasa atau berbicara akibat cedera otak traumatis.
Kesulitan berbicara adalah gejala paling jelas. Namun, penderita afasia juga bisa sulit menulis, mengetik, membaca, bahkan mendengar. Mereka perlu usaha ekstra untuk memahami ucapan orang lain.
Ada beberapa penyebab kondisi ini. Cedera kepala paling umum, tetapi kerusakan di bagian kiri otak juga bisa menjadi pemicunya, seperti stroke atau gangguan aliran darah.
Afasia sendiri terbagi dalam beberapa tipe dan tingkat keparahan:
- Afasia non-fluen
- Afasia ekspresif (juga disebut afasia Wernicke)
- Afasia global
- Afasia reseptif (juga disebut afasia Broca)
- Afasia anomik
Semua tipe menyebabkan masalah bicara dan bahasa hingga sulit dipahami. Setiap afasia/disfasia bisa menurunkan kualitas hidup orang tersayang.
Pengobatan dan alat bantu untuk kondisi ini
Karena afasia memengaruhi komunikasi, sebagian besar terapi afasia berfokus pada alat bantu komunikasi. Berikut alat dan terapi yang bisa dipertimbangkan.
Terapi wicara
Terapi wicara dan bahasa adalah cara utama membantu penderita afasia. Terapis wicara/SLP memandu sesi ini, baik secara perorangan maupun kelompok.
Terapi ini berfokus pada sisi neurologis gangguan bahasa akibat afasia. Terapis menggunakan berbagai teknik untuk menstimulasi bagian otak. Mereka juga membantu keluarga memahami tingkat kerusakan otak pasien.
Grup dukungan
Grup dukungan menyediakan ruang untuk saling berbagi pengalaman. Ini sangat membantu karena mereka bisa berinteraksi dengan sesama penderita. Beberapa grup juga menyediakan latihan bahasa.
Ada beberapa sumber untuk mencari grup dukungan yang cocok:
- Aphasia Alliance
- The American Stroke Association
- The National Institute on Deafness and Other Communication Disorders
- The National Aphasia Association
Diagnosis lewat MRI
Memahami sejauh mana cedera otak sangat penting untuk menentukan tipe afasia yang dialami.
MRI memudahkan hal ini.
Pemindaian ini dapat mendeteksi penyusutan di area otak tertentu dan membantu diagnosis afasia prog. primer. MRI juga bisa melihat gangguan lain, seperti stroke, tumor, atau Alzheimer.
Kurangi suara latar
Afasia/disfasia menyerang lobus temporal, bagian otak yang memproses suara. Jika rusak, penderita sulit membedakan suara.
Suara latar memperparah kesulitan ini.
Saat berbicara dengan penderita afasia, usahakan meminimalkan suara latar. Minta orang lain lebih tenang. Matikan musik dan TV. Ciptakan suasana agar lawan bicara bisa fokus pada suara Anda.
Sederhanakan ucapan Anda
Memilih kata yang sederhana sangat membantu penderita afasia.
Bukan berarti Anda harus selalu menghindari topik tertentu. Cukup buat kalimat dan kata sesederhana mungkin agar mudah dipahami.
Misalnya, kata "usaha" lebih mudah dimengerti daripada "mengupayakan". Upayakan selalu menggunakan kata sederhana untuk memudahkan komunikasi.
Aplikasi teks ke suara
Penderita afasia sering kesulitan membaca. Bayangkan Anda tidak bisa membaca artikel ini. Lalu bayangkan semua bacaan online, buku, majalah, dan lainnya.
Jelas, kesulitan membaca berdampak besar dalam hidup.
Pembaca teks ke suara (TTS) mengatasi hal ini dengan membacakan teks. Banyak yang sudah memakai OCR, pengguna bisa memfoto teks lalu mendengarnya langsung.
Beberapa aplikasi juga bisa memperlambat suara agar lebih mudah dipahami.
Penelitian juga menunjukkan penderita afasia merasa teknologi ini sangat membantu. Keyakinan ini membuat TTS berharga untuk terapi dan meningkatkan rasa percaya diri.
Speechify – TTS yang dirancang mudah digunakan
Menggunakan teks ke suara membantu penderita afasia/disfasia. Namun dibutuhkan perangkat lunak yang tepat.
Di sinilah Speechify berperan.
Speechify adalah aplikasi teks ke suara yang membantu membaca teks tertulis. Bisa membaca lebih dari 20 bahasa dengan berbagai narator. Tersedia di Android, iOS, dan Google Chrome.
Pengguna bisa memilih suara yang disukai dan memperlambatnya agar lebih mudah dipahami. Jika ingin tahu lebih lanjut atau mencoba Speechify, Anda bisa mencobanya gratis hari ini.
FAQ
Apa tujuan pengobatan afasia?
Pengobatan afasia membantu penderita menghadapi tantangan komunikasi. Bisa meningkatkan kemampuan berbicara atau membantu mereka dengan masalah pendengaran.
Bagaimana prognosis afasia?
Prognosis bergantung pada penyebabnya. Perbaikan paling besar terjadi pada bulan-bulan awal dan biasanya stabil setelah satu tahun.
Apa bedanya afasia dan disfasia?
Tidak ada bedanya, keduanya istilah untuk kondisi yang sama.

