Baik disleksia maupun ADHD adalah gangguan belajar yang memengaruhi fungsi eksekutif otak. Selain itu, kedua gangguan ini sering punya gejala yang mirip.
Akibatnya, sebagian orang mengira disleksia dan ADHD adalah hal yang sama.
Artikel ini menjelaskan bahwa keduanya tidaklah sama. Di sini dibahas perbedaan, ciri-ciri, serta persamaannya.
Apa itu disleksia?
Disleksia sering dikategorikan sebagai gangguan membaca karena memengaruhi kemampuan membaca seseorang. Namun, kondisi ini juga bisa mengganggu kemampuan menulis dan mengeja yang dibutuhkan anak-anak saat belajar.
Meski begitu, disleksia sebenarnya bukan gangguan belajar. Disleksia tidak memengaruhi kecerdasan seseorang.
Diperkirakan hingga 10% orang memiliki tingkat disleksia perkembangan tertentu. Perkiraan lain menyebutkan hingga 20% orang mengalami kesulitan membaca.
Jika Anda ragu apakah Anda atau orang terdekat mengalami kondisi ini, perhatikan tanda-tanda disleksia berikut:
- Membaca atau menulis dengan sangat lambat
- Bingung antara huruf yang mirip, misalnya “b” dan “d”
- Ejaan kurang konsisten atau sering salah
- Membalik urutan huruf dalam kata-kata
- Sulit merencanakan, mengatur, dan mengikuti instruksi tertulis
Disleksia bisa terdeteksi sejak usia sangat muda, bahkan balita. Namun, gejalanya baru tampak jelas seiring bertambahnya usia anak. Anak dengan disleksia akan mulai kesulitan dengan kata tertulis saat seharusnya mereka sudah bisa memahami bacaan dasar.
Apa itu attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)?
ADHD adalah gangguan perilaku yang bisa menyebabkan kurang fokus, impulsif, dan gelisah. Orang dengan ADHD sulit berkonsentrasi dan terlihat selalu resah.
Sama seperti disleksia, ADHD paling sering ditemukan pada anak usia tiga hingga tujuh tahun. Namun, diagnosis bisa terjadi di usia dewasa. ADHD pada dewasa juga mungkin karena kondisi ini tidak hilang seiring waktu.
Gejala ADHD antara lain:
- Sulit fokus pada satu tugas
- Sering marah atau mudah tersinggung
- Mudah terdistraksi di kelas atau saat berbicara
- Tidak sabar dengan tugas “membosankan”, misalnya mengoreksi tulisan
Selain itu, gejala ADHD berkaitan dengan masalah kesehatan mental. Banyak penderita mengalami kepercayaan diri rendah dan sulit tidur.
Perbedaan utama antara disleksia dan ADHD
Seperti terlihat, disleksia dan ADHD adalah kondisi yang terpisah. Masing-masing termasuk gangguan belajar spesifik yang memengaruhi aspek perilaku dan belajar yang berbeda.
Anak dengan disleksia menghadapi tantangan berbeda dibanding anak dengan ADHD. Dalam banyak kasus, psikiater atau psikolog pendidikan dapat membantu menangani kondisi ini. Meski begitu, penting memahami perbedaannya sebelum memberi penanganan.
Pemahaman membaca
Masalah membaca umum terjadi pada kedua kondisi. Disleksia dan ADHD dapat menyebabkan seseorang membaca lambat, tetapi alasannya berbeda.
Pada penderita disleksia, lambat membaca karena kesulitan memecahkan kata. Pada ADHD, lambat membaca umumnya akibat sulit fokus.
Biasanya, orang dengan ADHD cenderung membaca cukup akurat meskipun lambat. Orang dengan disleksia cenderung tertukar kata dan kalimat.
Menulis
Kedua kondisi juga bisa menyebabkan gangguan saat menulis. Namun, sumber masalahnya berbeda.
Orang dengan disleksia sering kesulitan menulis karena sulit memecahkan kata. Pola pembentukan kata tidak terlihat jelas, sehingga muncul masalah ejaan dan tata bahasa.
Pada ADHD, tulisan buruk biasanya akibat sulit mengatur pikiran. Ide-ide mudah hilang sebelum dituliskan. Ditambah perhatian pada detail yang rendah, hasil tulisan pun kurang akurat.
Konsentrasi
ADHD sangat memengaruhi tingkat konsentrasi. Penderitanya sangat sulit fokus. Sampai-sampai psikolog klinis bisa meresepkan obat untuk menstimulasi bagian otak yang mengatur perhatian dan perilaku.
Penderita disleksia kadang juga kesulitan berkonsentrasi. Namun, biasanya gejalanya lebih ringan dan tidak semua penderita mengalaminya.
Kehidupan sehari-hari
Kedua kondisi bisa menyebabkan masalah mental, seperti rasa tidak percaya diri. Namun, ADHD cenderung lebih banyak memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Orang dengan ADHD sering telat atau lupa janji. Masalah mengatur keuangan juga umum terjadi. Pada penderita disleksia, masalah lebih banyak terkait perencanaan, pengisian formulir, dan tugas-tugas praktis sederhana lainnya.
Menghadapi distraksi
Orang dengan salah satu kondisi ini tampak sering terdistraksi, tetapi alasan di balik distraksi itulah yang membedakan.
ADHD menimbulkan masalah fokus dan kurang perhatian, yang jelas menyebabkan distraksi. Pada disleksia, mereka tampak mudah terdistraksi karena tenaga mereka banyak terkuras untuk membaca atau menulis.
Jenis spesialis yang dapat membantu
Umumnya, penderita disleksia paling banyak terbantu oleh guru terlatih khusus dan psikolog pendidikan.
Penderita ADHD juga bisa dibantu tenaga pendidikan. Namun, mereka juga dapat menjalani terapi perilaku, berkonsultasi dengan dokter, dan menemui psikiater.
Persamaan antara disleksia dan ADHD
Seperti terlihat, ada beberapa persamaan pada kedua kondisi ini.
Keduanya juga bersifat genetik, setidaknya sebagian. Sekitar 40% hingga 60% orang mewarisi disleksia. Untuk ADHD, angkanya bahkan mencapai 77% hingga 88%.
Kedua kondisi biasanya membutuhkan rencana pendidikan individual (IEP).
Speechify
Karena membaca, menulis, dan fokus sering jadi tantangan pada kedua kondisi, orang membutuhkan cara yang lebih mudah untuk membaca.
Speechify adalah aplikasi text to speech. Software ini mengubah teks apa pun menjadi suara, dengan berbagai pilihan suara dan bahasa.
Fitur ini membantu siapa saja dengan gangguan membaca seperti disleksia, ADHD, atau autisme. Coba gratis sekarang dan lihat apakah cocok untuk Anda.
FAQ
Bagaimana membedakan ADHD dan disleksia?
Perbedaan kedua kondisi ini sering tipis. ADHD biasanya terutama berkaitan dengan masalah fokus, sedangkan disleksia dengan kemampuan membaca.
Apakah disleksia bagian dari ADHD?
Disleksia bukan bagian dari ADHD. Namun ada beberapa komorbiditas antara keduanya.
Bagaimana cara diagnosis disleksia?
Dengan asesmen disleksia di lingkungan belajar anak.
Bisakah seseorang punya disleksia dan ADHD sekaligus?
Ya, kedua kondisi bisa terjadi bersamaan.
Berapa banyak anak terdiagnosis disleksia?
Sekitar 10% anak mengalami disleksia.

