Flowers in the Attic adalah salah satu novel paling mengejutkan dan kontroversial di paruh akhir abad ke-20. Ditulis oleh V.C. Andrews, novel ini pertama kali terbit pada 1979 dan sejak itu menjadi judul yang menonjol sekaligus memecah belah dalam literatur remaja.
Baca terus untuk menyimak ulasan kami tentang Flowers in the Attic. Kami juga membahas tema-tema utamanya serta perbedaan antara buku dan adaptasi filmnya.
Apa itu Flowers in the Attic?
Flowers in the Attic adalah novel gotik berlatar tahun 1950-an yang menceritakan empat anak Dollanganger—Cathy, Christopher, Carrie, dan Cory. Keluarga Dollanganger awalnya tampak sempurna. Namun setelah ayah mereka meninggal (yang ternyata adalah paman tiri ibu mereka, Corrine) dalam kecelakaan mobil, anak-anak ini dikurung di loteng oleh ibu mereka Corrine dan nenek mereka Olivia.
Anak-anak itu berjuang bertahan hidup di loteng yang terisolasi, menghadapi kekejaman dan pengabaian, sambil berusaha menjaga harapan dan kasih sayang satu sama lain. Kisah ini juga menyorot tekad mereka untuk melarikan diri setelah Cory, si bungsu, meninggal akibat perlakuan buruk tersebut.
Antagonis utama kisah ini adalah Olivia Foxworth (lahir Olivia Winfield), istri religius Malcolm Foxworth dan ibu dari Malcolm Jr., Joel, dan Corrine Foxworth. Ia adalah sosok nenek mengerikan bagi anak-anak Dollanganger sekaligus penjahat utama cerita.
Novel ini menyajikan kisah mendebarkan yang membawa pembaca naik turun roller coaster emosi hingga berakhir pahit-manis. Meski sudah lama terbit, cerita ini tetap populer dan masih banyak dibaca.
Salah satu tema paling kontroversial dalam novel ini adalah romantisasi inses dan pemerkosaan. Hal ini paling jelas terlihat dalam hubungan Cathy dan Chris—dua dari empat saudara tersebut. Hubungan mereka, yang awalnya murni kakak-adik, dieksplorasi dengan nuansa seksual meski keduanya masih di bawah umur.
Novel ini tidak ragu mengupas secara detail hubungan antara Cathy dan Chris. Meskipun awalnya Cathy menolak keintiman, pada akhirnya ia pun luluh.
Buku ini mengangkat dinamika keluarga, kekerasan, dan perjuangan bertahan hidup dalam suasana gelap dan mencekam. Kisah yang penuh kejutan membuat pembaca terus penasaran, ditambah hubungan rumit antar tokoh yang sarat emosi. Flowers in the Attic memang memikat, tetapi penting untuk memahami tema-temanya yang sensitif dan membahasnya dengan bijak.
Perbedaan antara buku dan adaptasinya
Flowers in the Attic sudah beberapa kali diadaptasi, termasuk film 1987 dan film Lifetime 2014. Lifetime bahkan merilis mini-seri prekuel Flowers in the Attic: The Origin pada 2022, dibintangi Jemima Rooper, Max Irons, Kelsey Grammer, Kate Mulgrew, Paul Wesley, dan T’Shan Williams.
Namun ada banyak perbedaan antara novel asli dan adaptasinya. Beberapa elemen paling mengejutkan dari cerita ada yang diperhalus atau bahkan dihilangkan.
Beberapa perbedaan besar antara buku, adaptasi Lifetime, dan film 1987 antara lain latar waktu, hubungan Cathy dan Chris, adegan kekerasan nenek Olivia, serta karakter John. Film 1987 mengambil setting masa kini dan menghapus unsur inses.
Adaptasi Lifetime lebih setia pada buku, namun tetap mengubah beberapa bagian, misalnya mengganti adegan kekerasan menjadi hubungan yang digambarkan suka sama suka.
John, pelayan di Foxworth Hall, di novel dan film 2014 tidak tahu keberadaan anak-anak, tetapi di film 1987 ia tahu dan ikut mengurung mereka.
Tentang penulis
V.C. Andrews adalah penulis Amerika dengan banyak novel remaja bestseller, termasuk Flowers in the Attic. Ia lahir di Virginia sebagai Cleo Virginia pada 1923. Surat kabar The New York Times menyebut ia merahasiakan umur dan diperkirakan berusia akhir 40 atau awal 50-an saat wafat. Majalah People menulis pada 1980 bahwa artritis progresif membuat ia lebih banyak di rumah hampir sepanjang hidupnya.
Pada 1986, Andrews meninggal karena kanker payudara. Agen Andrews, Anita Diamant, kemudian meminta Andrew Neiderman—penulis The Devil’s Advocate—untuk melanjutkan kisah Flowers in the Attic dengan prekuel Garden of Shadows. Meski belum mengenal karya Andrews sebelumnya, pengalaman istrinya (penggemar novel tersebut) dan pengalamannya mengajar remaja membuat Neiderman mantap menjalani tugas ini.
Sudah lebih dari 30 tahun Andrew Neiderman menulis dengan nama pena V.C. Andrews, menghasilkan sekitar 80 buku. Ia juga menulis drama panggung berdasarkan Flowers in the Attic dan trilogi prekuel tentang nenek buyut Corrine Dixon. Walau namanya tidak pernah muncul di novel, namanya tercantum di situs Simon & Schuster dan situs pribadinya, di mana ia mengklaim telah memperluas jangkauan franchise dari 30 juta ke 106 juta pembaca di 95 negara.
Selain Flowers in the Attic, novel lain di seri Dollanganger adalah Petals on the Wind, If There Be Thorns, Seeds of Yesterday, Garden of Shadows, Beneath the Attic, dan Out of the Attic.
Dengarkan Flowers in the Attic di Speechify Audiobooks
Speechify adalah layanan audiobook inovatif dengan banyak judul untuk pendengar, termasuk Flowers in the Attic. Koleksi audiobooks-nya luas, dan pengalaman mendengarnya imersif serta mulus. Dengan Speechify, Anda bisa mendengarkan buku favorit kapan saja: saat bepergian, berolahraga, atau bersantai.
Jangan lupa, Speechify adalah studio AI terdepan untuk kreator. Dari aplikasi teks ke suara, ekstensi, hingga berbagai aplikasi audio AI seperti voiceover, dubbing, dan AI Avatar, semua tersedia di Speechify.
FAQ
Apakah Flowers in the Attic mengganggu?
Buku ini mengandung tema yang bisa membuat pembaca baru merasa tidak nyaman, seperti kekerasan fisik dan psikologis, trauma turun-temurun, inses, dan pelecehan seksual. Disarankan untuk bijak saat membaca.
Ada berapa episode Flowers in the Attic: The Origin?
Mini-seri prekuel ini terdiri dari empat episode.
Apa makna judul Flowers in the Attic?
Secara harfiah, anak-anak membuat bunga kertas untuk menghias loteng tempat mereka dikurung. Secara simbolis, anak-anak itu sendiri diibaratkan bunga di loteng—rapuh, lembut, dan butuh perlindungan.

