Diperkirakan ada 3 juta orang dari segala usia di Amerika Serikat yang gagap. Anak-anak usia 2 sampai 6 tahun adalah kelompok yang paling sering mengalami gagap, namun hal ini berkaitan dengan perkembangan bahasa dan bicara. Bahkan, gagap memengaruhi sekitar 5% hingga 10% anak-anak pada suatu waktu, berlangsung dari beberapa minggu hingga beberapa tahun.
Anak laki-laki hingga 3 kali lebih mungkin gagap dibanding anak perempuan, dan seiring bertambahnya usia, perbedaannya makin besar. Hingga empat kali lebih banyak anak laki-laki akan terus gagap daripada anak perempuan meskipun sebagian besar anak akhirnya tidak gagap lagi. Sekitar 75% anak-anak yang gagap akhirnya berhenti, namun 25% lainnya akan tetap gagap hingga dewasa dan menjadi kondisi seumur hidup yang memengaruhi komunikasi.
Apa itu gagap?
Gagap adalah gangguan yang memengaruhi bicara dan dikenal karena pengulangan kata, suku kata, atau bunyi. Namun, "blok" berupa jeda dalam bicara dan pemanjangan bunyi juga menjadi ciri gagap. Orang yang gagap tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi kesulitan menjaga kelancaran bicara yang wajar.
Gangguan bicara ini bisa berdampak negatif pada komunikasi dengan orang lain, yang pada akhirnya memengaruhi hubungan sosial, kinerja kerja, tugas sekolah, peluang karier, serta kualitas hidup. Pengobatan bisa mahal sehingga menambah frustrasi dan rasa terasing.
Penyebab gagap
Penyebab pasti gagap belum diketahui. Diperkirakan berawal dari masalah tertentu di otak. Ada dua jenis gagap yang paling dikenal:
- Gagap Perkembangan – Jenis gagap ini paling umum dan terjadi pada anak kecil yang baru belajar bahasa dan keterampilan bicara. Beberapa ahli percaya gagap ini terjadi saat kemampuan bahasa dan bicara anak belum cukup untuk memenuhi tuntutan berbicara. Faktor genetik juga bisa berpengaruh dan gagap bisa diturunkan.
- Gagap Neurogenik – Jenis ini biasanya terjadi setelah seseorang mengalami cedera otak seperti trauma kepala atau stroke. Bicara membutuhkan koordinasi beberapa bagian otak dan pada gagap neurogenik, koordinasi ini terganggu.
Dulu gagap dianggap akibat trauma emosional, atau psikogenik, tapi dokter kini tahu hal ini sangat jarang. Gagap psikogenik memang sangat tidak umum.
Kurangnya teknologi bantu untuk orang gagap
Teknologi bantu seperti Siri, Alexa, Cortana, dan Google bergantung pada perintah suara untuk berfungsi. Bagi kebanyakan orang, ini bukan masalah. Mereka berbicara, perangkat mendeteksi, menginterpretasikan, lalu menjalankan perintah. Antarmuka telepon otomatis juga bergantung pada perintah suara. Bagi orang gagap, proses ini tidak sesederhana itu.
Faktanya, teknologi suara tidak dirancang untuk orang dengan kesulitan bicara, baik gagap maupun lainnya. Jika teknologi tidak dapat memahami ucapan, perintah tak bisa dijalankan. Ini membuat frustrasi dan mematahkan semangat. Pengguna yang paling kesulitan adalah mereka yang gagap dengan blok.
Text to Speech untuk orang gagap dapat membantu mereka lebih mandiri dengan memungkinkan penggunaan program dan perangkat yang diaktifkan serta dikendalikan suara. Produk seperti Speechify bisa mengubah teks menjadi suara sehingga lebih mudah berinteraksi dengan asisten suara dan perangkat aktif suara.
Apakah gagap memengaruhi membaca?
Gagap dan masalah membaca sering kali saling berkaitan. Penelitian menunjukkan bahwa orang gagap memiliki aktivitas otak tidak normal ketika berbicara, mendengarkan atau membaca. Satu studi membandingkan aktivitas otak 24 orang dewasa – 12 gagap dan 12 tidak gagap. Pemindaian otak dilakukan pada tiga percobaan berbeda dalam studi ini:
- Peserta mendengarkan kalimat
- Peserta membaca kalimat dalam hati
- Peserta membaca kalimat dalam hati sambil orang lain membacakannya
Hasilnya sangat jelas. Orang gagap menunjukkan peningkatan aktivitas di area pendengaran saat mendengarkan kalimat. Saat membaca, aktivitas di area motorik (khususnya pengurutan gerakan) otak menurun. Hal ini menunjukkan proses bicara terganggu karena sirkuit otak berinteraksi secara tidak wajar. Ini juga mungkin menjelaskan kenapa gagap dan membaca sulit sering terjadi bersamaan.
Gagap dan pemahaman membaca juga tampak berkaitan. Anak-anak yang gagap dan sedang belajar membaca sering lebih kesulitan karena jalur saraf yang terpengaruh.
Apakah text to speech bisa membantu? Bagaimana?
Orang yang mengalami gagap dan gangguan kelancaran membaca merasa bahwa text to speech dapat membantu meningkatkan kemampuan membaca maupun pemahaman. TTS membantu mereka mendengarkan teks dan mengikutinya tanpa terlalu membebani proses neurologis membaca dan memahami.
Ini bermanfaat di tempat kerja maupun sekolah karena tugas membaca dan memahami bisa memperberat proses belajar. Text to speech membuat PR jauh lebih mudah dan produktif, meningkatkan pembelajaran serta mengurangi kecemasan dan frustrasi.
Asisten dan perangkat yang dikendalikan suara juga jauh lebih mudah digunakan dengan text to speech karena perintah bisa langsung diketik dan dibacakan tanpa hambatan akibat gagap. Cukup ketikkan perintah dan biarkan program membacakannya untuk Anda. Praktis dan efisien.
Fitur Text-to-Speech Speechify
Membaca dan gagap tidak harus selalu terasa berat. Speechify adalah salah satu program TTS terbaik dengan banyak ulasan bagus. Sangat ramah pengguna. Baca dokumen Word, PDF, artikel, email, artikel, dan lainnya. Apa pun yang biasa Anda baca, bisa didengarkan dengan TTS Speechify.
Speechify bisa membacakan teks Anda atau menyorot bagian agar Anda bisa membaca bersama sambil mendengarkan. Pemahaman meningkat, waktu lebih efisien, dan Anda bisa mengatur kecepatan sesuai kebutuhan.
Teknologi AI kami kompatibel di semua perangkat dan bisa tersinkronisasi. Mudah, praktis, dan sangat memberdayakan. Tetap produktif membaca dan bekerja dengan perangkat suara dan program lainnya. Tidak perlu terus kesulitan membaca – Anda bisa menikmatinya.
Blog ini tidak memberikan saran medis dan tidak boleh digunakan untuk mencari solusi medis. Jika Anda memiliki kondisi medis, harap konsultasikan ke dokter Anda.
Coba Speechify sendiri dengan uji coba gratis dan rasakan bebasnya membaca dengan text to speech.

